Saya kira sedang membeli waktu.
Ternyata, saya yang dibeli.
Rp79.000 untuk Hemat Waktu
Saya bermain Clash of Clans (COC).
Di game ini, hampir semua bangunan butuh waktu untuk di-upgrade. Dan nunggunya lama.
Bisa sampai dua minggu hanya upgrade satu bangunan, lho.
Untungnya, ada fitur Gold Pass. Mirip seperti Starlight di Mobile Legends.
Salah satu bonusnya adalah Builder Boost sebesar 20%. Upgrade yang tadinya 14 hari dipotong menjadi sekitar 11 hari.
“Lumayan. Bisa beli waktu.”
Apalagi saat itu sedang diskon.
Saya beli.

Menurut saya, ini investasi yang masuk akal. Upgrade lebih cepat, berarti saya juga bakal lebih cepat selesai bermain.
Main lebih sedikit, waktu luang lebih banyak.
Logika sempurna dari orang yang tidak berpikir jangka panjang.
Setiap notifikasi “Builder is FREE!” muncul di lockscreen, saya langsung login.
“Lima menit aja,” kata saya.
Masalahnya, lima menit itu hampir tidak pernah benar-benar lima menit.
Habis upgrade, saya sekalian lihat Clan War. Sekalian cek Clan Season. Sekalian ambil misi harian. hadiahnya lumayan.
Tau-tau dua puluh menit lewat.
Lucunya, sejak merasa membeli waktu, saya malah dibeli oleh game itu sendiri.
Sedikit Demi Sedikit
Saya tidak tahu kapan tepatnya kebiasaan itu berubah.
Tanpa sadar, saya sampai kecanduan memainkan game ini.
Saya pun jadi lebih mudah mengeluarkan uang untuk membeli paket yang lebih mahal, top up, skin, latar, dan berbagai item lainnya.
Menghapus game-nya
Gold Pass-nya belum habis. Tapi game-nya sudah saya hapus.
“Sayang kalau Gold Pass-nya belum habis.”
Tapi uangnya tidak akan kembali.
Lagian, “Siapa yang sebenarnya diuntungkan dari ini?”