Skip to content
Blogs.

Gara-gara Percaya ChatGPT

4 min read
Gara-gara Percaya ChatGPT

Ketika malam tiba dan rasa cemas melanda… Musik sering kali menjadi benteng pertahanan terakhir. Supaya tidak overthinking memikirkan hari esok yang melelahkan.

Demi menikmati musik dengan lebih khusyuk, banyak pencinta audio terjun ke dunia audiophile dan menggunakan DAP (Digital Audio Player). Hobi ini tidak bisa dibilang murah. Kualitas suaranya jauh lebih baik dibandingkan “hengset” biasa. Bahkan eartips yang “cuma karet” saja bisa dihargai hingga 150 ribu rupiah.

Demi mengejar kualitas suara seperti itu, salah satu perangkat legendaris yang sering diincar di forum Facebook sejak bertahun-tahun lalu adalah HiBy R3.

Berburu di Pasar Bekas

Karena harga unit barunya cukup menguras tabungan, berburu unit second menjadi jalan ninja yang paling realistis bagi saya. Di momen itu, saya sempat tergoda untuk menawar harga ke penjual di Shopee. Saya beli barangnya dari tegra39.

Derita Baterai Sakaratul Maut

Risiko membeli barang bekas memang selalu menjadi misteri yang mesti siap diterima. Kesialan pertama datang begitu paketnya tiba. Saya baru sadar kalau kabel IEM saya tiba-tiba mati sebelah. Untungnya ada kabel bonus dari seller.

Sayangnya, kabel bonus tersebut menggunakan jack 2.5mm (kecil) yang hanya bisa dipakai di DAP ini, sehingga tidak bisa digunakan di HP maupun laptop. Belum kelar penderitaan soal kabel, apesnya baru bertambah saat saya menyadari bahwa baterainya sudah sakaratul maut.

Awalnya DAP ini masih kuat memutar sekitar 10 lagu. Namun lama-kelamaan performanya merosot drastis: dari 5 lagu… 4 lagu… hingga hanya kuat bertahan memutar 3 lagu saja. Lalu mati total.

Karena dompet saya sudah tipis setelah diperas habis-habisan untuk membeli perangkat ini, opsi servis resmi jelas mustahil. Pilihan terakhir yang tersisa adalah meminta bantuan pada teknologi masa depan yang gratisan. Yaitu ChatGPT.

Malapetaka

Saya sempat bertanya ke AI bagaimana cara mengganti baterai HiBy R3 yang sudah drop parah.

ChatGPT menjawab:

Panaskan casing belakangnya dengan hairdryer untuk melelehkan lemnya, lalu congkel perlahan.

Begitu saya bilang “ga ada hairdryer”, si robot memberikan alternatif lain.

Saya disuruh menggunakan pencongkel LCD HP atau benda tipis lainnya untuk mencongkelnya langsung.

Saya ikuti petunjuk itu dengan penuh rasa percaya diri. Saya ambil alat pembuka LCD, lalu menyelipkannya ke sela-sela bodi belakangnya… Dan ditekan sedikit.

KRAAAK!

Kaca belakang glossy nan mewah itu retak seketika tepat di depan mata saya.

Saat saya mengeluh bahwa kaca belakangnya hancur retak, robot itu membalas:

“Saya sangat menyesal mendengar bahwa perangkat Anda mengalami kerusakan. Sebagai kecerdasan buatan, saya tidak bermaksud memberikan arahan yang merugikan. Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini… blablabla”

Lhoo? Bagaimana jika di masa depan robot-robot ini mengambil alih dunia? Lalu saat mereka tidak sengaja menghancurkan peradaban manusia, mereka cuma bilang kalimat template itu? :)

Namun, penderitaan tidak berhenti di sana. Karena baterai originalnya tidak tersedia, ChatGPT menyarankan saya membeli baterai no-brand seharga sekitar 150 ribu di toko online. Dengan ukuran yang katanya “mendekati”.

Sialnya, saat baterainya datang, ukurannya justru terlalu BESAR. Dan tidak muat di dalam bodi. Lagi-lagi, si ChatGPT meminta maaf dengan kalimat penyesalan yang template.

Beberapa lama kemudian… ChatGPT menyarankan saya membeli lem LCD T4000 untuk merekatkan kembali bodi yang retak. Saya pun menuruti sarannya. Setelah berhari-hari mengecek Shopee dengan cemas, lemnya akhirnya datang. Sayangnya, setelah dicoba, retakan itu tetap tidak bisa direkatkan. Zonk lagi…

Namun ketika semua solusi terasa buntu, nekat memang jadi satu-satunya pilihan… bukan?

Tragedi

Ketika emosi sudah di ubun-ubun, jalur nekat akhirnya diambil. Proses penggantian baterai yang kegedean itu akhirnya dilakukan dengan solder seadanya dan kehati-hatian penuh.

Bagian ini menjadi yang paling menegangkan, karena timah sok asik di PCB bertingkah terlalu mepet. Tangan sampai sedikit gemetar karena takut menyentuh komponen lain atau memicu korsleting pada baterai. Saya sempat pasrah.

Namun saat colokan terakhir dipasang, layar tiba-tiba berkedip dan logo akhirnya menyala. Perangkat tersebut berhasil hidup kembali, Yeayy ~

Kondisi fisiknya saat ini:

  • Casing belakang hancur, retak.
  • Bodi belakang berubah menjadi ngejendol parah karena dipaksa menampung baterai yang kegedean.
  • Tampilan akhir kini mirip dengan bodi HP Android murah yang baterainya kembung karena mau meledak.

Kesimpulan Besar dari Seluruh Penderitaan

Meski bodinya rusak, setidaknya perangkat ini masih bisa menemani ritual mendengarkan musik sebelum tidur tanpa takut mati di tengah lagu. Musik tetap bisa dinikmati dengan detail. Meski kondisi bodi dan dompet setelah eksperimen ini sudah cukup mengenaskan.

Pada akhirnya, AI tidak merusak perangkat saya. Saya yang melakukannya sendiri. AI hanya memberi saran. Yang menanggung akibatnya tetap manusia. Termasuk menahan malu karena gadget impian saya sekarang malah terlihat seperti bom rakitan btw.

Pake sticker supaya tidak terlalu keliatan bom XD

Sampai jumpa di keresahan selanjutnya, semoga.

Fuji Halim Rabani

Menulis untuk mengingat, bukan untuk diingat. Topiknya beragam, dari anime sampai hal-hal sederhana sehari-hari.

Share